Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Berita dari nenek Tua

Sebenarnya ini adalah sebuah cerita lama, cerita sewaktu aku masih tinggal di Bali, tepatnya di kawasan Tohpati, Denpasar pada tahun 2014 silam. Waktu itu aku bekerja pada salah satu vendor perbankan dan menempati posisi sebagai staff cash processing.

Kala itu aku sungguh merasa malas untuk berangkat bekerja, aku merasa lelah, dan hatiku masih saja dipenuhi dengan khayalan-khayalan penat "andai sekarang aku adalah seorang Mahasiswa". Tetapi sudahlah, Aku kemudian mencoba untuk mengalahkan rasa malas ku itu dengan bergegas mandi serta bersiap-siap untuk berangkat, walaupun sebenarnya rasanya begitu berat, belum lagi ditambah dengan pemikiran tentang masalah yang mungkin terjadi di kantor. Selisih lebih ataupun selisih kurang, keduanya adalah sebuah masalah yang cukup mengkhawatirkan.
Terlepas dari semua kekhawatiran itu aku mulai bergegas mengendarai motorku, kulihat waktu telah menunjukkan pukul 14:40 WITA, tak biasanya aku seperti ini, dan aku yakin hari ini aku akan terlambat masuk kerja, karena biasanya aku berangkat pukul 14:30 WITA dan tiba di kantor 5 menit atau bahkan tepat pada waktu masuk kerja.

Kulihat waktu semakin memburuku dan indikator bensin juga sudah mendekati garis merah, seperti biasa jika masih di kawasan Tohpati, aku selalu membeli bensin eceran di pinggiran jalan, pada seorang wanita renta yang tengah duduk di pinggir jalan. Suaraku kala itu membubarkan lamunan beliau, saat itu beliau tengah duduk diam memandang sesuatu, lebih tepatnya seperti memikirkan sesuatu, terik panasnya mataharipun seolah-olah tidak dirasaannya. Setelah aku mengisi bensin motorku, aku beranjak memacu motorku. Seperti biasa perdebatan-perdebatan di dalam diri mulai mengambil posisi disetiap kali aku memulai perjalanan di Bali ini.

"Lihatlah beliau mas, usianya berapa? dan kamu berusia berapa?, tataplah beliau mas, pekerjaannya apa dan pekerjaanmu apa, Tidak pernahkan kamu berpikir mas, bahwa pekerjaanmu saat ini jauh lebih ringan dan nyaman bila dibandingkan dengannya, ketika kamu merasa berat bukankah beliau lebih berat lagi mas? beliau duduk di pinggiran jalan terpapar teriknya mentari, sementara kamu duduk di kursi yang empuk dalam ruangan teduh dan ber AC pula, masihkah layak untukkmu mengeluh mas?"

Belum selesai aku berdebat, mataku kemudian disuguhi sebuah pemandangan yang cukup mengusik, dua orang wanita paruh baya yang sedang duduk berpijak di pijakan kayu dengan posisi yang tinggi, terlihat mereka sedang mengecat rumah, bisa ditebak bahwa profesi mereka adalah seorang kuli batu.
Welcome to Bali, Kota dimana aku sering menjumpai wanita-wanita yang tengah bekerja, mulai dari kenek bus, kuli bangunan, juru panggul dan tukang cat seperti ini. sekali lagi anganku di usik oleh pertanyaan ku sendiri.

"Lihat mas, berapa penghasilan yang mereka dapatkan? sementara berapa pula yang kamu dapatkan? betapa mudahnya kamu mengatur pengeluaranmu dengan sebuah gaji yang tetap dan bahkan bisa naik dengan jam-jam lembur, tidakkah kamu berpikir sejenak bagaimana mereka mengatur kebutuhan hidup mereka?"

setelah melihat mereka aku mulai berusaha untuk mengalahkan hatiku, aku merubah pola pikirku, hari ini adalah hari yang baik, tidak akan ada masalah, kalaupun ada masalah itupun pasti ada jalan keluarnya,  tinggal aku saja yang mau mencarinya atau tidak, lantas apa yang membuat aku resah, apa yang membuat aku khawatir? bukankah aku memiliki partner-partner kerja yang hebat, tinggal berkomunikasi, membagi tugas dan bekerja sama, bukankah hari ini nanti akan berlalu begitu cepat?

Akhirnya tibalah aku di tempat kerjaku, kulihat waktu tengah menunjukkan 15:05 WITA, tepat sesuai perkiraan aku terlambat, syukurnya hanya lima menit saja, setelah check log akupun berganti baju khusus lalu menghampiri rekan-rekanku. Aku mulai menyapa mereka dan juga berbagi canda.
Tak terasa hari akhirnya berlalu dengan begitu mulusnya, aku bersyukur atas hari ini. Atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepadaku, karena aku yakin Tuhan tidak akan pernah menelantarkan aku.

"Ketika kamu Mengingat-Ku, maka Aku pun akan selalu mengingatmu" Begitulah yang Tuhan katakan padaku lewat Firmannya, dan akupun percaya akan semua itu. Jadikanlah hidup yang kamu miliki ini sebagai sebuah hidup yang berkualitas, masalah dan persoalan yang membuat kita akan semakin mengerti, semakin dewasa dan semakin lebih bisa untuk menghargai apa yang di sebut dengan hidup.
"Aku berterimakasih untuk mereka yang tak pernah lelah dalam berkarya" :) 


Just another story, when I am on Tohpati, 2014, Rofi Miftachul

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Karena Aku Manusia


Bahkan serpihan kaca pun tak mampu menghilangkannya. Tetesan merah  tak terasa lagi mengalir, air mata hanya menyambut rasa kecewa dan tandusnya hatiku itu. Beginikah hausnya gurun itu menantikan hujan yang tak kunjung datang. Kecewa dan menyesal, andaikan otakku ini adalah sebuah flash disk yang bisa diformat kapan saja, tapi sayangnya ini adalah lembaran bergaris merah yang kini usang. Tak terasa sayatan kecil menggores sedikit di pergelangan kecil ini, antara logika dan nurani. Betapa hancurnya aku saat ini, bayanganmu selalu mengikutiku, aliran darahkupun mempertanyakan mampukah kamu mempertanggungjawabkan janji-janjimu itu?
                Presepsi dan argumentasipun mulai hadir dan berkeliling di benak ini, kupandang serpihan kaca yang terseimuti darah dan air mata, kuingat betapa menyesalnya diriku saat kuingat pemikiranku itu. Bagaimanapun aku hanyalah manusia tanpa daya. Disaat aliran ini mulai berhenti kupandang garis lurus merah yang mengungkapkan betapa tegasnya cinta dan sayangku padamu. Disaat ku mengingat kini dirimu bukanlah milikku lagi, aku hanya bisa berharap hari-hari ini cepat berganti. Akupun beranjak dari tempatku saat ini. Mulai kurebahkan jiwa lemah yang sedang tertatih-tatih ini dibantu dengan butiran-butiran penenang sambil berharap efeknya mampu membuatku bangun kesiangan, dan lekas tertidur dikala malam.

                Perjalananku terasa semakin berat, akupun mulai berdiam diri dan menutup semua akses komunikasi, tapi kenapa kalian masih perduli dengan sebutir debu yang tiada guna lagi? Apakah yang kalian cari dariku? Pemikiranku seperti dikala itu atau senyuman manisku?
detik berganti detik namun tetap saja bayangmu selalu mengisi, aku semakin terpuruk disaat ku tahu betapa mudahnya kamu melupakan aku, mengapa ini tak bisa berjalan seperti sebatang coklat untuk adinda?
                Akupun mulai mencoba untuk mulai berdiri, diam dan berprinsip berdikari, monarki absolut autarki yang individualism namun kenapa masih saja ada yang membutuhkan aku? Bukankah aku ini seonggok sampah yang tak bermakna. Lantas kenapa pula ini harus memerlukan sebuah pengorbanan lagi? Tidak bisakah semua berjalan tanpa ada yang harus dikorbankan, lantas kemanakah aku harus meminta pertanggung jawaban atas semua yang telah kukorbankan. Lagi-lagi aku adalah seorang manusia yang tak memiliki jiwa pemarah namun bisa pula marah, tak memiliki jiwa pendendam namun aku juga bisa dendam,Ingin rasanya ku obral cintaku kepada mereka yang mengharapkanku kemudian aku akan membuat mereka merasakan rasa sakit yang sama sebagai butiran usang yang tak berdaya dipermainkan keadaan. Tapi lagi dan lagi aku adalah manusia yang tak memiliki jiwa player, akhirnya komitmenku tercekal oleh sebuah SK  nurani, “Jika mencubit itu sakit, maka jangan pernah kamu mencubit”. Dari sini pulalah aku mengingat sebuah kata “aku dulu seperti itu tapi berkat kamu dan demi kamu aku akan berubah”, kini gulapun tak lagi terasa manis, ayam tak berasa ayam, dagingpun tak berasa daging semua rasanya adalah sama hambar bagaikan air tawar yang telah dibubuhi kekecewaan, mungkin partikelnyapun telah menghitam akibat tak sudi melihat air mata yang selalu kuteteskan. Andaikan aku adalah seorang anggota NII yang bisa terformat seluruh mainsetnya, tapi lagi dan lagi aku adalah manusia yang tidak hanya menggunakan perasaan namun juga orientasi kerasionalan dan kelogikaan, tapi mengapa semua itu tak berdaya bila menghadapi cinta.
                Kini disaat aku mulai terpojok, tak ada lagi kawan tak ada lagi lawan, ingin rasanya aku masuk kedalam dunia kelam menggunakan hidup hanya untuk bersenang-senang, berkawan dengan barang-barang setan, tapi lagi dan lagi aku ini adalah seorang manusia rasional. Semua pemikirankupun telah menemui titik klimaksnya, tak mampu mengingat janji-janji yang membuatku terlena tak berdaya yang akibatnya airmataku selalu mengalir tiba-tiba tak perduli dimanapun aku berada, ditambah dengan banyak hal yang membuatku teringat akan dirimu. Berapa banyak air mata lagi yang harus aku keluarkan, berapa banyak teriakan yang harus ku teriakkan agar aku bisa meluapkan semua rasa sedih, kecewa dan rasa sesal ini dan berapa banyak lagikah butiran-butiran yang harus aku telan agar aku bisa mendapatkan sebuah rasa nyaman?

                Sepertinya hanya si toshi yang mampu mengerti, membiarkanku memutar alunan-alunan didalamnya, membiarkanku mengisinya dengan luapan-luapan rasa sakit dan terabaikan serta membiarkanku mengisinya dengan lembaran-lembaran sesal.Dan disaat Strongholdpun tak mampu lagi untuk menghiburku lantas dimanakah aku harus menghibur diriku, kucoba berbicara dengan sesorang namun nyanyian mereka tetaplah sama karena mereka tak tahu betapa aku mencintainya. Berkali-kali bibirku ini berkata aku tak kuat lagi, haruskah aku pergi? Kudengar nyamuk membisikiku “TIDAK” lihatlah aku walaupun sendiri aku mampu berdiri. Disini hatiku semakin yakin untuk mengukuhkan komitmenku menutup semua akses komunikasi dan mulai berdiri sendiri diatas sepatu individualism dan dibawah topi monarki absolut. Dirikupun mulai mengangkat kepala dan memandang lurus walaupun aku tak mampu membohongi diriku bahwa aku masih mencintainya, dan kini kembali lagi aku harus merasakan sempitnya berjalan diatas dua muka. Ironi memang bila aku harus menapaki jejak-jejak kelam saat aku merubah haluan, sesalku hanya satu mengapa ini semua terjadi disaat aku mulai bisa menikmati keterpaksaan itu? Sekali lagi, karena aku adalah manusia, yang akhirnya membawaku menuju keputusan masalalu, andaikan aku dulu gigih memegang kata tidak, maka ini tidak akan terjadi, pemikiranku yang terlanjur basah selalu menguatkanku. Lantas aku bisa apa? Sebenarnya aku sendiri tak tahu siapa diriku, sepertinya sudah tak ada semangat dan hari esok lagi. Semua bernyanyi move on hanya adele lah yang bernyanyi some one like you. Andaikan aku ini adalah dirimu yang mudah lupa dan andaikan kamu berada diposisiku saat ini pasti kamu akan tau betapa aku sangat mencintaimu. Sekarang bagaimana aku harus mencari kunci hatiku yang telah kau buang ke lautan itu? Berapa banyak waktu lagi? Sadarkah kamu bahwa aku adalah seorang yang memiliki ingatan tajam yang akan sulit melupakan sesuatu hal. Sekarang apabila aku pertanyakan janji-janjimu yang tak perduli apapun dan akan terus bersamaku maka mampukah kamu mempertanggung jawabkannya? Lagi dan lagi karena aku adalah manusia bagaimanapun aku sadar diri dan mema’fukan janji-janjimu. Aku memang tak layak berada disampingmu karena aku bukanlah orang baik yang bisa mengerti kamu, mengerti akan kehidupanmu. Sekarang aku telah sadar ucapan seseorang bahwa cinta itu tak harus memiliki, asalkan dirimu bahagia akupun akan bahagia pula. Sekarang akupun tak bisa menafikkan lagi ucapan kawanku bahwa cinta itu keindahannya hanya diawal semata namun setidaknya aku pernah menanggalkan satu pendapatnya, walaupun sekarang aku tak mampu lagi melakukan hal yang sama menjadikan relasi ini tetap terjalin indah sebagai seorang sahabat. Seberapa banyak aku menyesal dan mengungkapkan rasa kecewa ini toh semua tiada guna lagi, walaupun aku berteriak seribu kali bahwa aku tulus mencintai dan menyayangimu,sepertinya sikapmu akan selalu sama. Beruntungnya dirimu menjadi seseorang yang mudah lupa tanpa tau disini ada seorang punguk yang selalu menangis, menanti dan merindukan bulannya. Tapi setidaknya aku masih bersyukur diriku masih bisa berguna bagi orang lainnya,  mungkin suatu saat aku akan merubah komitmen individualism, monarki absolut dan autarki ini, karena aku sadar ini adalah diktator yang aku gunakan untuk bertahan, jika aku telah menemukan kemana hidupku akan terdedikasi aku ingin merubah pendirianku itu. Satu yang mampu mengalahkan stronghold yaitu mengajar kawan-kawan menjadi asisten guru dan menggantikan beliau karena ada sebuah kepentingan. Terimakasih kawan berkat kerjasama kita, belajar bersama kita tadi aku bisa sedikit tertawa walaupun tetap aku tak mampu melupakannya. Disaat aku menunjuk seseorang untuk mencoba mempraktikan apa yang telah aku jelaskan rasanya aku begitu iri padanya, walaupun tetap belum bisa dan mengerti tapi tetap saja masih ada tawa diraut mukanya, andaikan aku bisa menjadi pribadi seperti itu. Sepertinya ucapan terimakasihku ini untukmu kawan. Walaupun kamu sekarang tak mau mendengarkan aku, mulai pergi dan menjauhiku tapi setidaknya dengarkanlah pengakuan terakhirku ini AKU MENCINTAIMU APA  ADANYA jika kamu belum percaya aku akan memberikanmu sebuah alasan, tanpa kamu sadari selama ini aku sabar menantimu, sabar menghadapi keterbatasan waktumu untukku karena berbagai aktivitasmu, setidaknya tak berlebihanlah jika kini aku mengucapkan terimakasih padamu karena bagaimanapun kamu pernah memberikan warna-warni indah dalam lembaran-lembaran monoton hidupku ini. Akupun meminta maaf atas semua kesalahanku, kemarahanku dan ketidak mampuanku untuk mengerti kamu. Biarpun berat kini aku akan mencoba bangkit seraya berkata aku adalah rumahmu, kemanapun kamu pergi kembalilah kerumahmu ini, pintuku selalu terbuka lebar untukmu. Aku akan mencoba menepati janji-janjiku padamu, dan sekarang tak ada hak lagi aku untuk memarahimu, mencemburuimu, melarangmu ini dan melarangmu itu krena bagaimanapun aku ini adalah manusia yang mempunyai rasa sadar diri, dan menghargai. Dengarlah pintaku untuk hargailah orang-orang yang mencintaimu wlaupun aku tak termasuk kedalam daftar itu. Jika seseorang berkata kepadaku life must go on, move on, maka aku akan berkata diriku harus mulai berdedikasi dan terus berorientasi. Setiaku bukanlah SEtiap TIkungan Ada bukan pula SElingkuh TIada Akhir tapi setiaku adalah karena cinta. Sekarang aku tidak akan lagi berusaha melakukan hal yang terbaik tapi aku kan berusaha melakukan semuanya dengan sempurna.
I WIIL ALWAYS LOVE YOU karena aku adalah manusia yang DON’T WANNA TELL A LIE FOR LOVE.Sekali lagi karena aku adalah manusia.
                                                

                                            Authentic short story by: Rofi M.A

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengapa Kita Harus Berteman?

   Sebagai orang yang egois, berprinsip berdikari, jarang sekali aku memiliki kawan. Masih teringat jelas dalam benakku kata-kata dari teman terakhirku “Sikap dinginmu, egomu akan menjauhkanmu”, apa yang dapat dirubah dengan kata-kata itu, aku lebih tau dan memahami siapa diriku. Kata dari hatiku itulah yang selalu memicu dan membantah pernyataan itu. Hari-hariku kuisi dengan menyibukkan diri sendiri dengan hal-hal umum seperti pelajar lainnya, tak ada yang berbeda kecuali aku selalu mmonopoli semua tugas kelompok denga presepsiku. Bagiku bukankah akan lebih baik jika aku yang mengeksekusinya.
Kata-katakupun tidak terlalu banyak dan dingin adalah ciriku, dengan begini aku bisa tenang dan tetap tegak dalam membala rasa kekecewaanku karena mereka. Tahukah kamu sebelum aku memulai membangun relasi dengan mereka, aku memiliki seorang sahabat yang tidak dapat dipisahkan dari hidupku, kami biasa mengerjakan semuanya bersama, namun setelah kepindahannya entah kemana, semuanya menjadi berubah. Bukan dia yang menyebabkanku seperti ini namun mereka. Mereka yang tak memiliki sifat seperti kawanku itu, mereka menghampiri dan merangkulku hanya untuk kepentingan-kepentingan mereka, isi kepala dan fasilitas-fasilitas yang kumiliki. Namun ketika rodaku berada dibawah, satu persatu dari mereka pergi menjauh melupakan apa yang sudah kulakukan untukknya dan mereka mulai mengatakan apa yang seharusnya tidak mereka katakana. Semenjak itulah aku mulai menjauh dan berhenti menjalin hubungan dengan semuanya, kecuali dengan myfamily. Perlahan-lahan aku mencoba bangkit dari kondisi ini, hingga pada akhirnya kehidupanku berada didalam masa puncaknya. Satu persatu dari mereka mulai merapat kembali, terlambat itulah isi hatiku, kemana kalian disaat aku butuh, lantas Mengapa Kita Harus Berteman?.

Seiring dengan kesibukan kedua orang tuaku yang semakin padat, aku menjadi merasa sepi didunia ini, pasalnya kalau bukan mereka yang menjadi penghiburku siapa lagi?.
Akhirnya dipenghujung tahun ini aku memutuskan untuk pindah ke desa tempat nenekku, disini aku bersekolah disalah satu SMU swasta. Tak masalah, itulah kata-kata pertama saat tiba didesa ini.
Hari-hari disini kujalani dengan kehidupan ala kota, menatap lurus mengakkan kepala dan tanpa menghiraukan mereka yang datang menyapa, bagiku aku tidak butuh orang-orang ynag akan memberiku sebuah penghianatan. Bukankah kepercayaan itu laksana sebuah kaca yang sangat tipis, dan apabilah engkau telah menjatuhkannya, dapatkah keretakkan atau pecahannya dikembalikan menjadi utuh lagi, that’s too impossible.
Bagiku I’m the king in my own empire.

“Ini adalah desa nak, kekeluargaan dijaga betul disini, tidak ada yang akan kau dapatkan jika kamu terus bersikap seperti ini” ujar nenekku.
Dengan whateverlah aku selalu menutup mata dan telinga, menampakkan punggung dan menghiraukan nasehat-nasehat rentanya.
Tak banyak memang kegiatan yang bisa dilakukan disini, tidak seperti kehidupanku dikota, disini semua berjalan mengalir dan sangat sederhana.
Pada akhirnya aku merasakan pula rasa sepi itu, rasa dimana aku selalu bertanya “dimana aku?” dan “siapa aku”, disaat seperti ini aku  menuju beranda dan duduk diatas kursi bambu tua, dari kejahuan kulihat seorang bertubuh renta dengan jinjingan bakul disebelah kanan dan tongkat yang di tangan kirinya. Melihat nenek renta itu aku terdiam sejanak, “Bukankah hidup itu seharusnya seperti dia?” disalah satu sisi beban harus ditanggung, namun disisi lain juga harus ada yang menopang yaitu sebuah semangat kebahagiaan. Tahukah kalian akan maksudku, andaikan kehidupanku dulu lebih kuperhitungkan mungkin sekarang aku berada dalam posisi seimbang, ada kawan dan ada lawan. Dan mungkin aku juga mampu berdiri tegak diantara keduanya. Tanpa banyak berfikir aku menghampirinya , kuambil dan kubawa bakul dijinjingan kanannya,
“Terimakasih cu” ujarnya lembut.
 aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil, betapa bahagianya beliau saat bebannya aku ambil, dari sini aku bisa belajar bukankah sahabat itu seharusnya seperti itu , meringankan beban dan kesedihan kawannya, saling berbagi apapun asam garam hidup ini. Mengapa aku baru tersadar sekarang, apabila aku dulu mengalah dan terus bertahan, memaafkan walaupun hanya untuk dimanfaatkan, maka akan banyak kawan diekelilingku, bukankah pada akhirnya akan ada yang mengangkat bebanku pula.
“Mengapa nenek baru pulang selarut ini?” tanyaku.
Sambil berjalan beliau berkata “ Hanya ini yang bisa nenek lakukan cu”
“Kemanakah anak nenek?”
“Entahlah cu, nenek hanya bisa berharap mereka semua hidup bahagia walaupun tanpa mengingat nenek”
Kulihat nenenku meghapiri nenek renta ini.
“Kenapa baru pulang Mbak yu?” kata nenekku
“Ini aku belikan sebakul nasi jagung untukmu, bukankah mbak menyukainya?”
“Mbak yu… Mbak yu, Mbak yu lebih berharga daripada sebakul nasi jagung ini”
“Sudah ayo kita masuk” tambah nenekku.
“Nenek, siapa dia?” tanyaku lirih
“Dia juga keluargamu, dia tinggal dengan nenek, dia adalah sahabat nenek dari kecil”
“Mengapa aku baru sekarang melihatnya, bukankah jika dia tinggal disini aku sudah mengetahuinya seminggu yang lalu?”
“Begitulah cu kegiatannnya, dia berjualan dikampung sebelah, dan paling lama dia pulang seminggu sekali cu, dan setiap kali pulang pasti membawakan apa yang aku sukai”
“Mengapa nenek tidak melarangnya, bukankah fisiknya sudah terlalu renta?”
“Akankah cucu biarkan nenekmu ini mematikan semangat dan kebahagiaannya?”
“Tapi kenapa tidak nenek carikan anak-anaknya, bukankah ia akan bahagia walaupun hanya sekali bertemu mereka?”
“Simpan pertanyaanmu itu cu, nenek lebih tau tentang mbak yu dari pada kamu”.
“Lantas mengapa nenek mengizinkannya tinggal disini?”
Sambil masuk kerumah nenekku menjawab, “Nanti kamu akan tau”
“Tau apa?”,
akupun berfikir dan memandang laptop diatas mejaku, kenapa aku tidak memulainya dari situ. “facebook”  aku akan mengawalinya lagi darisana. Akupun membuka akunku yang telah lama kutinggalkan, Wow banyak sekali friends request disisni, akupun mengapprov semuanya.
“Mengapa Kita Harus Berteman?” tanpa mencoba aku tidak akan pernah tau.
“hai” kudapat chat dari seseorang, kubalas chatnya dengan kata-kata pembuka umumnya, dan kamipun mengakhirinya denga salam, terimakasih dan pola J .
***

Mengapa Kita Harus Berteman?, pertayaan itulah yang mampu menjadi start kehidupan baruku, lewat pertanyaan itu tanganku mulai bisa menjabat, dengan senyuman aku memandang kawan-kawan baruku itu. Satu hal yang kudapat dari mereka cobalah dahulu sebelum berkomentar.

Didalam perjalanan pulang aku menghampiri seorang gadis yang duduk dibangku taman, kulihat ada kesedihan terpampang jelas diwajahnya. Kusodorkan tanganku  “Hai, aku Diaz” . “Aku lisa” ujarnya.
Aku sedikit terkejut saat mengetahui namanya,  namun semua itu terhapus dengan saatu kalimat, “Bukankah didunia ini banyak nama yang sama?”
“Kenapa kamu sendrian disini?”
“Tidak papa.. aku hanya… hanya..”
“Hanya merasa bersalah karena telah meninggalkan seorang Andiaz Saputra” sahutku.
“Mengapa kamu tau, apakah kamu Diaz itu?” tanyanya ragu.
Kemudian aku memalingkan punggungku padanya.
“Untuk apa kau mengejarku, aku mau pulang” bentakku
“Bukankah kamu temanku?”
“huh.. Teman” jawabklu remeh.
“Lalu mengapa kita harus berteman Lisa? dua tahun, dua tahun tanpa kabar, pergi tanpa berpamitan, sekarang kau bilang kita ini teman”
“Diaz” panggilnya
“Stop. biarkan aku pergi”.

Akupun beranjak pulang, dirumah aku melihat nenekku duduk mengobrol dengan nenek yang dipanggilnya mbak yu.
“Untunglah Mbak Yu kita tidak hanya berteman”
apa maksud dari perkataan itu?, aku meletakkan tas punggungku dan memulai membuka akun facebook. Kemana mereka semua?, kenpa tidak ada yang online? batinku.
 Aku tau sekarang , tanpa berfikir panjang kutinggalkan laptopku dan berlari menemui Lisa, kuihat dia menangis dibawah pohon tua

“Maafkan aku lis”
“Diaz” ujarnya.
“Semua ini adalah salahku yang terlalu egois, andaikan aku tidak egois aku tidak akan membuatmu begini”
“Sudahlah Diaz aku juga bersalah”
“Mengapa kita tidak melupakan hal yang telah berlalu dan memulai sesuatu yang baru” pintaku
“Itu berarti kita akan berteman lagi?’tanya lisa
“Mengapa Kita Harus Berteman?” jawabku
“Apa” kulihat kekagetan diwajahnya

“Aku tidak mau kita hanya berteman, teman adalah seseorang yang hanya menenmanimu disaat kamu merasa sepi, bukankah kamu sering mendengarkan ucapan meminta “Maukah kamu menemaniku hari ini”, bukankah itu berarti permintaan sementara dan bukan untuk selamanya, setelah kepentingan selesai akankah kamu akan ditemani ataupun menenmaninya? Lalu Mengapa Kita Harus Berteman?, aku tidak mau kamu hanya menemaniku disaat sepi, dan menjauh disaat ramai datang menghampiriku”
 “ Akankah kamu bersahabat denganku?”
“Mengapa kita harus bersahabat?” tanyanya
Kupandang dia dengan senyuman

“Akankah kamu tahu sahabat adalah teman tanpa mengenal batas masa, sahabat bukan hanya teman penghilang sepi, namun sahabat adalah seseorang yang akan selalu menemani, saling berbagi baik suka ataupun duka, baik jauh maupun dekat. Bukankah selama ini kamu masih mengingatku, menyimpan penyesalanmu karena telah meninggalkanku, lantas mengapa kamu masih menyimpan rasa sesal itu?
Kalau kita bisa menjadi sahabat, Mengapa Kita Harus Berteman?”
Kulihat senyuman kecil tergambar jelas di wajahnya kemudian dia menatpku penuh tanya.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini Lis”
kutatap jauh kedalam bola matanya dan aku berkata
“Aku tidak akan menjadikanmu seorang kekasih, jangan kamu bertanya mengapa, tidakkah kamu tahu ikatan itu akan menghancurkan persahabatan kita, apabila ikatan tersebut kandas, bukankah kamu akan merasa malu, marah dan dendam kepadaku, lantas kemudian kamu akan mengumbar privasiku, ketahuilah Lis, persahabatan tidak akan pernah memisahkan segalanya, walaupun nantinya kita tidak berjodoh pada akhirnya kita akan menjadi saudara, namun apabila Tuhan telah mengukuhkannya, siapa yang mampu menghentikannya? apabila saatnya telah tiba aku akan mempersuntingmu dibawah payung persahabtan kita”

“Terimakasih Diaz”
“eitss… jangan biarkan dekapanmu itu menghampiriku, karena aku tak ingin persahabatan kita dikotori oleh nafsu”
Kami berdua hanya saling memandang dan akupun berkomando “Kejar aku” seraya aku berlari menjauhinya. Kuarahkan wajahku kehadapan langit, Terimakasih ayah, ibu, karena kalian telah menunjukkan jalanku, dan begitupula kepada kedua nenekku , satu yang kuketahui dari mereka adalah persahabatan mereka lebih awet daripada raganya.
Berusaha untuk mengalah pada kepentingan tak berarti, itulah yang kehidupan desa ini ajarkan. Mengalah untuk teman apabila hal tersebut dapat merusak persahabatan dan tidak membawa faedah . Namun adakalanya ada sebuah kemenangan dalam seratus kali kesalahan, reach your win without damage your friendship. Ambillah kesempatan itu untuk memenangkan hal besar dan penting dalam hidupmu. Dan alangkah indahnya apabila berhasil meraih kemenangan itu bersama sahabat. Jangan pernah merasa tersakiti ataupun menyakiti. Tidakkah engkau tahu betapa sakitnya apabila disakiti oleh orang lain itu, terlebih apabila orang lain itu adalah kolega seperjuanganmu. Inilah sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh nenenk-nenenkku itu “Jangan pernah mencoba untuk menyakiti seorang sahabat dengan ego, keputusan dan kehendakmu, namun carialah jalan tengah diantara itu yang pada akhirnya akan melanggengkan persahabatanmu dengan win win solution tanpa mempecundangi pihak lainnya”.



                                                                                                                                       Authentic short story by : Rofi  M.A.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebatang Coklat Untuk Adinda


    Masa SMA merupakan awal penorehan warna dalam lembaran-lembaran kosong ku, siapa sangka di SMA inilah kutemukan apa yang menjadi mimpiku dan apa yang selalu ada dalam benakku.
Tanah Mimpi, begitulah aku menyebutnya. Tempat dimana kini aku bernaung sebagai seorang  yang sedang menjalani program pertukaran pelajar. Aku merasa tertantang ketika aku mengetahui bahwa tempat ku adalah Tanah Mimpi, tanah yang terkenal dengan keeksotikannya yang juga merupakan bagian dari Indonesia.
kupikir semua akan berjalan secara sederhana, namun ketika ku dapati kondisi SMA yang jauh dari kata layak, diriku bertanya inikah Tanah Mimpi itu? Tak heran jika kini warga Tanah Mimpi ini bernyanyi “Island Dream Deman Justice” Ditengah-tengah kondisi ini aku selalu bertanya kemanakah larinya otosus untuk Tanah Mimpi ini?.
Beruntung, di sini aku tinggal dirumah seorang penduduk lokal dengan kearifan yang luar biasa. Nilai-nilai ketimuran masih dijaga betul disini, maklum wilayah ini masih belum terjamah teknologi-teknologi barat. Hanya sebuah jalan rayalah yang menjadi bukti masuknya dana pemerintah diwilayah ini. Akupun tak pernah tau bagaimanakah kondisi disini sebelumnya. Yang kutahu hanyalah Minyak kayu putih, sarang semut , bertani dan nelayan sebagai mata pencaharian utama di wilayah ini. Saat aku masuk sekolahpun kurasakan suasana 180 derajat berbeda dengan di Jakarta, jarang sekali aku menemukan kondisi kelas yang nihil, ketika kutanya mengapa mereka absen jawabnya hanya satu, membantu orang tua bekerja. Dari sini aku bisa mengetahui mengapa sekolah ini tetap bertahan walaupun dengan siswa yang sangat pas-pasan setiap harinya. Disini hanya ada 10 orang guru yang mengajar 3 tingkat kelas berbeda. Aku tidak dapat membayangkan apa jadinya bila sekolah ini terpaksa bubar kerena kekurangan siswa, pasalnya ini adalah satu-satunya SMA di tanah mimpi ini.
***
“SMA Bhakti Tanah Mimpi” disinilah sekarang aku belajar, Akses menuju SMA ini  lumayan jauh dari tempat tinggalku sekarang. Semua harus ditempuh dengan berjalan kaki, melewati hutan, menerobos sungai dan berjibaku dengan jalan-jalan terjal perbukitan.
Jarak 3Km biasa kutempuh dengan waktu 30 menit. Beruntung disini aku tidak sendirian, aku mempunyai banyak teman. Diantaranya adalah Adinda, seorang gadis yang juga berasal dari Jakarta. Dia tinggal di sini semenjak ayahnya dipindah tugaskan ke sini . ayahnya adalah seorang pengajar yang bertugas mengajar disalah satu SMP di Tanah Mimpi ini. Tak kusangka seorang warga ibu kota mampu bertahan di daerah terluar ini. Selain itu  kegiatan belajar mengajar disini dimulai dari pukul 07.30, memang berbeda dengan sekolah-sekolah lain yang dimulai dari pukul 06.30, kebijakan ini mungkin dihasilkan karena berbagai pertimbangan, diantaranya adalah faktor jarak tempuh.


Seperti hari disekolah-sekolah lainnya, kami mengawali pelajaran dengan apel pagi, Jiwa nasionalisme terhadap bangsa masih terpatri utuh di hati remaja-remaja tanah mimpi.       
“Apa hanya seperti ini?” itulah kata pertama yang terucap saat aku mengetahui proses pembelajaran yang didampingi dengan sarana prasarana yang jauh dari kata cukup. Keterbatasan pengajar dan minimnya komponen-komponen pendukung bukanlah hal yang berarti yang dapat menghalangi niat remaja-remaja disini untuk mengenyam bangku pendidikan. Disinilah mereka menggantungkan asanya. “never say give up” masih tergambar jelas di raut muka mereka.
Terlepas dari kondisi tersebut aku masih bersyukur sekolah ini masih lebih baik dibandingkan kondisi “laskar  pelangi”.
 “Din aku boleh bertanya sesuatu”? Tanyaku.
“Boleh”
“Kenapa kamu mau hidup di daerah terpencil ini ”?
Kalian tau apa jawab adinda, ia hanya tersenyum dan berkata “sebuah pengabdian”.
Dari  kata yang ia ucapkan aku jadi mengerti, betapa besar dedikasi orang-orang Tanah kecil ini.
***
Malam disini sungguh sunyi,tanpa listrik dan hanya nyala api yang jadi pelita . tak kusangka masih ada kehidupan sesederhanan ini.
Tok..tok..tok…tiba-tiba suara pintu terdengar, ku lihat Adinda berdiri dihadapan pintu,
“ada apa din…?”
 “Aku Cuma bosan ris, aku berada dirumah sendirian, orangtuaku sedang pergi ke pusat kota dan aku biasa menunggu mereka disini, kalau kamu tidak keberatan kamu mau temenin aku nggak?”
Aku hanya mengangguk kecil saja, karena kutahu suasana disini memang sepi sekali. jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya juga lumayan cukup jauh, ditambah lagi dengan tiadanya media penerangan dan komunikasi yang mendukung.
Kemudian aku mengajaknya duduk di beranda depan, aku tak tau apa yang harus kukatakan, bagiku dia adalah gadis pertama yang menemuiku langsung, biasanya di Jakarta aku tak pernah perduli dengan mereka. Dalam logikaku mereka adalah sama, mengajarku hanya demi sebuah status, mendekatiku haya demi sebuah ikatan hubungan atau mungkin yang mereka cari sebenarnya bukanlah aku, namun perhatianku, materiku dan mungkin hanya menunjukkan rasa terimakasih mereka. Namun aku tak melihat semua itu pada diri Adinda, keluguannya mencerminkan perilakunya.
“ Biasanya mereka pulang jam berapa din?”
“tidak pasti, semua tergantung dengan kondisi, kadang mereka harus pulang pagi akibat hujan yang menambah buruk infrastuktur disisni”
Dari kejauhan terlihat seorang berseragam safarai dengan kerut diwajahnya yang menggambarkan betapa besar perjuangannya, tatapan matanya membutku memberikan sebuah senyuman kecil yang beliau sambut dengan anggukan kepala.
“Faris, itu ayah dinda”
“Kamu sering menunggu disini ya?”
“biasanya aku disini di temani dengan mama Ina, pemilik rumah ini, berhubung beliau ada keperluan jadi  mama Ina menyuruhku untuk menemuimu”
“Apa kabar?” itulah sapa ayah dinda yang kudengar pertamakali,
lecture beliau menggambarkan sebuah kearifan, tanpa ragu akupun menjabat tangan kanannya.
Dengan ucapan selamat malam dan terimakasihlah pertemuan kami malam ini berakhir.
Keesokan paginya kurasakan hawa sejuk dan tenang dengan kabut tipis yang menjadi selimut, kulihat aktifitas disini sudah mulai bergeliat, walaupun hari ini adalah hari libur, namun yang kusaksikan seperti tak ada libur di dalam kehidupan mereka. Berbeda dengan lifestyle orang-orang di kota-kota besar yang memanfaatkan akhir pekannya untuk bermalas-malasan, bepergian ataupun refreshing ke taman-taman hiburan. Di awal hari ini aku melihat senyuman-senyuman kecil yang sudah mulai terlukis, etos kerja dan semangat menjadi awal keseharian mereka. Keramahan-keramahan mereka kepadaku mampu mengubah hawa dingin menjadi kehangatan-kehangatan ikatan keluarga. Akupun mencoba untuk melangkahkan kaki menyusuri geliat-geliat kehidupan disekitar. Dari sini aku menemukan apa yang dinamakan hadir dalam kehidupan, kondisi dimana kita mampu menerima dan mensyukuri keadaan yang ada walaupun sebenarnya itu adalah sulit,  yang terpampang disini hanyalah semangat cinta cinta keluarga yang menghantarkan kepada semangat bekerja, cinta kepada orang tua yang mampu memicu darah kaula muda terkalahakan dengan kata “ya”. Tangan-tangan kecil mereka mengukir kebanggan orang tua mereka. Sejenak aku terhenti dan menatap pantulan wajahku disebuah sungai kecil, “apa yang telah aku berikan kepada dua orang tuaku selain duka dan derita?’ aku terpaku membandingkan diriku dengan semangat-semangat mereka.
“faris”
Kulihat dinda datang menyapa
“dinda” balasku
“sedang apa ris?”
“aku hanya jalan-jalan sebentar din, kamu sendiri?”
“sama faris, aku juga mengawali mingguku?”
“din kamu mau ngaak ngajak aku ketempat yang paling indah disini”
“boleh, kebetulan aku punya tempat favorit disini”
“oh ya? Dimana?”
“sudah jangan banyak bertanya, ikuti saja aku”
Perkataan dinda membuatku penasaran akan tempat tersebut, pasalnya didaerah sini hanya didominasi oleh hutan dan perbukitan, sungainyapun hanya sungai-sungai kecil biasa.
“ayo faris” dinda menarik lenganku, entah kenapa aku menjadi gugup rasanya aku seperti tak mampu untuk melepaskan genggaman lembutnya, aku merasakan ada kenyamanan saat dia menggandeng tanganku.
“faris”  dinda menoleh kearahku dan menghentikan langkahnya.
“ada apa din”
“dari sini kamu harus menutup mata”
“apa?” sahutku kaget.
“sudah ikuti saja petunjukku” kemudian dinda menutup mataku dengan tangan mungilnya, aku menjadi semakin gugup, dan kami berjalan beberapa langkah kemudian berhenti disebuah titik.
perlahan-lahan dinda melepaskan tangannya dari mataku, kemudian tampaklah sebuah eksotika alam yang belum terjamah oleh tangan-tangan biadab manusia, gemercik air mengalir jernih, deretan perbukitan menjadi pagar alam, tampaklah beberapa remaja yang sedang bermain air, sebagian dari mereka membantu orang tua mereka menangkap ikan, dengan peralatan-peralatan sederhanlah mereka gantungkan hidupnya. Tampak pula penebang-penebang pohon sagu yang masih tetap memperhatikan cara menghargai alam, mengolah batang-batang sagu didekat aliran sungai dengan cara-cara yang sangat sederhana, sungguh kegotong royongan mereka tergambar jelas dalam endapan-endapan tepung sagu.
“Indah”
“sungguh indah” hanya kata-kata itulah yang dapat kuucapkan, kemudian aku mengajak dinda untuk bersaksi atas semangat-semangat dan cinta mereka, hingga akhirnya kami berhenti dan duduk diatas batu yang terletak ditepian sungai. Kuceburkan kakiku disini, lalu aku sandarkan punggungku di pohon belakangku.

“din’
“iya”
“aku punya sesuatu untukmu”  kemudian kusodorkan sebatang coklat yang kubawa dari Jakarta.
“Ini coklat buat kamu, terimakasih telah mengajakku kesini”
“coklat?”
“iya coklat”
“Di Jakarta coklat digunakan untuk menunjukkan rasa sayang kepada orang-orang yang dicintai, dan ini adalah satu-satnya coklat yang kumiliki sekarang”
“itu berarti…”
“stttss.. “ aku menutup bibir adinda dengan satu jari telunjukku.
“jangan berkata apa-apa, cobalah kamu menikmatinya”
Dinda hanya terdiam, pandangannyapun tertuju pada satu titik, tak kusangka ada seorang pemuda kecil lokal yang melihat kami dari tadi, ku lihat dia memandang ingin pada bungkusan di tangan adinda.
Aku memandang adinda, kemudian aku melihat paras lugu dari sikecil lokal.
“faris, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan, dan aku juga berpikir demikian” lantas dinda memberikan sebatang coklat tersebut untuk anak kecil itu, aku hanya tersenyum kecil “ kamu benar-benar baik din, kamulah orang yang selama ini aku cari, kamu mengerti apa yang tidak orang lian mengerti, dan kamu tau apa yang tidak orang lain tau, aku janji aku akan memberikanmu sebatang lagi”
Dia memegang tanganku dan kudengar bibir mungilnya berkata “Terimakasih faris, itulah yang aku pikirkan dan kurasakan semenjak aku bertemu kamu, aku melihat dirimu berbeda dengan yang lain, kearifanmu setara dengan apa yang kulihat pada diri ayahku”
“Baiklah din, setidaknya aku tau apa yang ada dalam kalbumu sama seperti yang ada didalam dadaku”.
Kemudian kami melanjutkan jalan-jalan kami, dengan tangan yang tergandeng satu sama lain.Pada saat ini aku merasa benar-benar menemukan apa itu yang disebut dengan missing piece, yah…  you ‘re the missing piece. Dari dindalah aku bisa mengetahui jangan pernah merasa kosong dan dari kearifan lokallah aku mengetahui never say despair.
***



Sesampainya di boarding home ku, aku berfikir dimana aku bisa mendapatkan sebatang coklat lagi? Tak ada toko besar disekeliling sini, akupun memutuskan untuk pergi ke kota, dengan sepeda kayuh milik mama Ina aku menuju kota secara perlahan, dari pencarian coklatku ini aku menjadi lebih mengerti apa yang penduduk lokal sini rasakan, dengan cinta yang jauh menjadi dekat, dengan cinta yang berat menjadi ringan, itulah semangat mereka yang mereka dedikasikan kepada keluarga ataupun anak-anak tercinta mereka. 4 jam aku mengayuh pedal renta, sesampainya di kota aku tidak menemukan apa yang aku cari, yang mereka sediakan hanya biji-biji kakao kering dan buah kakao. “sudikah dia memakan ini?” itulah pertanyaan yang mendampingiku pulang kerumah milik mama Ina.
“apa kamu sudah gila faris?” itlah bayanganku ketika aku berfikir memberikan biji kakao dan buah coklat kepada dinda. Niatkupun ku tunda untuk beberpa waktu.
***
Pagi berikutnya aku berangkat kesekolah seperti biasa, dengan dinda, patric, titus, Gabriella dan montez.
Kami mengawali pagi ini dengan apel seperti biasa. Dikelas aku mencoba memandang wajah dinda yang berada jauh di depanku, smabil memperhatikan pelajaran yang ada aku selalu berpikir kata apa yang akan kudapatkan saat kuberikan sesuatu itu kepada dinda, “apakah aku harus membatalkan janjiku?”
“ah.. tidak”
Kemudian aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan membahas soal-soal kecil didalam bukuku,
“kasih sayang tak memperhatikan apa yang akan kau berikan, kasih sayang juga tak memperhatikan apa yang kau miliki, bukankah adakalanya satu milyar itu terkalahkan dengan sebuah ban dalam bekas?, disaat seorang terlempar ke lautan cobalah engkau memberinya uang 1 milyar, bukankah dia akan mengabaikannya? Namun disaat engkau melemparkan sebuah ban dalam bekas yang nilainya jauh, jauh dan sangat jauh dibandingkan 1 milyar, bukankah ia akan menggapainya. Kasih adalah engkau cinta bukan berterimakasih, seeorang yang mencintaimu karena kebaikanmu, ia adalah seseorang yang ingin berterimakasih kepadamu, seseorang yang menyayangimu karena pemberianmu, sesungguhnya yang dia harapkan adalah materimu, lantas apa yang akan kau harapkan dari dia?”
Itulah penggalan kata yang dibaca oleh patric saat ditanya apa inti dari penggalan buku yang ia baca, dari sini aku tersadar, bukan nilai atau rasa dari pemberianku ini yang mengandung arti, apabila dinda benar-benar cinta kepadaku yang ia terima dan rasakan bukanlah perwujudan dari benda-benda ini, namun yang akan ia rasakan adalah makna apa yang terkandung didalam sini, kemudian aku menatap dinda “din, apabila kau memang untukku maka kamu akan mengerti maksudku”.
Di saat malam tiba aku beranjak menuju rumah dinda dengan membawa biji-biji kakao yang aku tahu pahit rasanya, dan juga buah kakao yang aku tahu asam rasanya. Perlahan aku mengetuk pintu rumah dinda  tok..tok..tok…
Ayah dindapun keluar
“selamatmalam om, dinda ada?”
“faris, kebetulan om dan tante akan berangkat ke kota, kamu temani dinda disini ya, sampai kami datang”
“tapi om”
“sudah om percaya sama kamu”
“dinda, ini ada faris, dan ayah ibu berangkat sekarang”
“hati-hati om, tante” ujarku
“faris, ada apa?”
Akupun mengajak dinda keberanda depan,
“begini din akukan kemarin menjanjikan ganti dari sebatang coklat yang kamu berikan kepada anak kecil kemarin, nah ini aku bawakan walaupun mungkin tidak seperti yang aku janjikan dan mungkin kamu tak mengharapkannya” aku menyodorkan biji-biji coklat yang telah matang dan juga buah coklat dengan kepala yang tertunduk.
Tak kusangka dinda langsung mengambil sebiji buah kakao yang kusodorkan, “tapi din itukan…”
Jawabku ragu, dia hanya tersenyum “ aku tau faris tak ada pedagang coklat didaerah ini, bukankah kamu bilang sebatang coklat itu adalah satu-satunya yang kamu miliki , aku yakin rasa biji kakao ini lebih enak dibandingkan dengan coklat, walaupun aku tak pernah memakan apa itu coklat semenjak aku disini”
“terimakasih din”
“yang membuat kakao ini terasa enak bukanlah apapun kecuali dari niatmu yang tulus dan usahamu yang menambah manis rasa biji kakao ini”
“din, will yu be my special someone ?”
“apa?” jawab dinda terkejut.
“maaf faris aku memang suka dan sayang sama kamu, dan aku yakin kamu adalah yang terbaik tapi maaf aku tidak bisa melakukan itu tanpa sepengetahuan ayahku, I hope we will be best friend sampai waktu kita benar-benar cukup”
Akupun mengangguk dan berkata “Itulah jawaban yang ingin kudengar, keberbaktianmu kepada orang tuamu, itulah yang menambah kecantikan dirimu, karifanmu yang menghargai sesuatu bukan dari apa yang diberikan namun dari makna apa yang terselip, itu menambahkan keanggunanmu, jarang aku menemui orang sepertimu din, terimakasi adinda”. Kamipun mulai memakan biji kako dan buah coklat yang ada, rasa pahit buah kakao menggambarkan betapapun paitnya kehidupan apabila ditekuni dan diolah maka akan berubah menjadi sebatang coklat yang manis, dan betapa asamnya rasa yang dirasakan akan berubah manis apabila telah digodog dan diambil pelajaran darinya.
Akupun beranjak pulang disaat orang tua dinda datang. Maaf dan terimakasih itulah kata terindah yang menjadi penghujung pertemuan malam ini.
***
Keesokan paginya aku menrima surat yang menandai berakhirnya pertukaran pelajarku di Tanah mimpi ini. Dengan senyuman aku menyikapinya, aku bersyukur telah mengucapkan apa yang seharusnya kau ucapkan, dan aku berterimakasih kepada kehidupan lokal yang telah banyak memberiku falsafah kehidupan. Kemudian aku menemui dinda untuk mengatakan kabar ini
“din, sudah saatnya kau kembali ke Jakarta”
Aku hanya melihat dia tersenyum
“Din, kamu marah ya, kenapa disaat kita mulai bisa menghargai dan mengerti satu sama lain aku harus kembali, itukan kata yang ingin kamu ucapkan?”
“kamu salah faris, apa yang mengharuskan aku untuk menahanmu?, bukankah memang kehidupanmu berada disana”
“tapi din…”
Dinda menutup bibirku dengan jari telunjuknya “faris, kita akan bertemu lagi, apa yang membuatmu khawatir? Aku akan lebih bersedih apabila aku menjadi penahanmu disini, diwajahmu tergambar jelas ris apa yang sebenarnya kamu inginkan”
“thanks din, sekali lagi kamu telah mengerti apa yang ada didalam fikiranku”
akupun beranjak untuk kembali ke Jakarta, hanya satu kata yang dapat kuucapkan disini, semoga penjajahan teknologi yang pasti akan datang suatu saat nanti tidak akan merubah komitment, semangat dan kearifan kalian.

***
Di Jakarta aku memulai hariku dengan kegiatan-kegiatan bisa, disekolah aku menceritakan tentang kearifam walaupun didalamnya ada sebuah ketertinggalan, semangat walaupun didalamnya terkandung sebuah keterbatasan, dan dedikasi walaupun sebenarnya dihimpit dengan ketidaksanggupan.
Tak terasa pula setahun telah berlalu, aku masih mengingat jelasa siapa dinda dan apa yang dikatakannya, dihari libur ini aku berencana pergi untuk membeli coklat sambil bernostalgia. Senyuman-senyuman kecil menghantar perjalananku saat kuingat biji-biji pahit kakao dan keasaman buah coklat yang menghantarkanku kepada seorang berbudi yang tinggal di Tanah mimpi.
“adinda aku akan selalu mengingat siapa dirimu, aku berjanji disaat ada kesempatan nati aku kan menemuimu kembali”.
“mbak, coklatnya habis ya?” tanyaku kepada penjaga minimarket
“tadi ada sebatang mas” ujarnya
“apa tidak ada stok lagi mbak?” tanyaku
“tadi masih ada mas, dan belum ada transaksi disini, jadi masih ada”
”baiklah mbak akan ku cari sekali lagi”
Kemudian aku kembali menuju tempat coklat..
“gimana sih mbak ini, jelas-jelas sudah gak ada”gumamku
Kemudian aku terkaget dengan sodoran sebatang coklat didekatku
“Ini buat mas aja, mungkin mas lebih mengiginkannya dibanding aku”
Tanpa menoleh dan berfikir panjang aku mengambil coklat itu dan berkata
“nah ini yang kau cari, thanks ya”
Tapi saat aku menolehkan kepalaku aku terkejut
“dinda?” tanpa terasa coklatkupun terjatuh
“hai, faris apa kabar” sapanya
“tapi… tapi.. gimana kamu bisa kesini?” tanyaku gugup.
“akukan dulu kan pernah bilang kita pasti bertemu lagi”
“tapi bagaimana bisa?”
“ayahku dipindah tugakan ke Jakarta, jadi kami menetap disini, tak kusangka ya kita bertemu disini”
Akupun membeli coklat itu dan mengajak dinda untuk ketaman kota disini.
Dengan bangganya aku mengatakan “ din ini sebatang coklat untukmu”
Dia hanya tertawa
“kenapa din, bukankah aku sudah menepati janjiku?”
“sayangnya aku lebih suka biji kakao dan buah coklat dibandingkan dengan sebatang cokalat ini”
“apa?????”
Dan pada akhirnya sebatang coklatlah yang mempertemukan kami, dengan kesabaran dan keyakinan apa yang tidak mungkin terjadi bisa menjadi sebuah kenyataan, cinta dan semangat adalah hal yang tidak akan pernah mati, karena cinta dan semangat engkau bisa menggapai apa yang kami gapai, dan karena cinta pulalah yang membuatmu menghancurkan dirimu, perampok membunuh karena cinta terhadap keluarganya, pencopet mencopet demi cinta terhadap anak-anaknya.
Berusahalah untuk kebaikan cinta, dan satu pertanyaan yang kutinggalkan untuk kamu manakah yang lebih baik “mencintai” atau “dicintai”.



authentic short story by : Rofi M.A

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS